SEDOLAR DUNIA
Mungkin anda sangat asing dengan kata sedolar dunia, ya memang saya akan membahas bagaimana jika kalau bangsa indonesia menggunakan mata uang dolar, dolar bukan hanya mata uang namun ada makna tersendiri.
membicarakan mat uang dolar tidak akan ada habisnya. banyak hal mengenai tentang dolar, sedolar pun sangat lah besar jika di konversikan ke Rupiah. namun ada mata uang lain yang lebi besar dari mata uang dolar, tetapi kita akan membahas tentang mata uang dolar
membicarakan mat uang dolar tidak akan ada habisnya. banyak hal mengenai tentang dolar, sedolar pun sangat lah besar jika di konversikan ke Rupiah. namun ada mata uang lain yang lebi besar dari mata uang dolar, tetapi kita akan membahas tentang mata uang dolar
Normalnya, sebuah Negara mendapat pendanaan salah satunya dengan memungut pajak dari rakyatnya. Namun, bagi Negara superpower mereka
dapat memungut pajak dari Negara-negara lainnya. Itulah yang
berabad-abad kita saksikan terjadi dalam imperium yunani, romawi,
ottoman, dan bahkan hingga Inggris raya.
Namun, untuk pertama
kalinya, Amerika serikat pada abad 20 bisa memajaki negara-negara lain
dunia secara tidak langsung melalui beban inflasi penciptaan mata uang
dolar yang tidak didukung dengan logam berharga. Mata uang dolar yang
terdistribusi secara luas menempatkan Amerika pada tempat istimewa.
Negara-negara lain harus berkeringat menyerahkan hasil buminya dari
minyak, tuna, rotan, kayu, emas, tembaga sementara sang superpower cukup
menukarnya dengan uang kertas yang bisa dicetak kapan saja dan tanpa
memiliki nilai intrinsik sedikit pun. Risiko terjadinya inflasi dari
penciptaan dolar yang berlebihan dengan cerdik dialihkan kepada 60 %
lebih penduduk bumi yang menggunakan mata uang ini.
Stabilitas mata uang
Dalam perdagangan internasional tidak
semua jenis mata uang memiliki legitimasi dan dapat dipergunakan secara
luas. Negara berkembang misalnya, jarang yang menggunakan mata uang
local untuk urusan transaksi internasional karena mata uang mereka
dianggap volatile (tidak stabil). Lantaran itu, mereka menggunakan uang yang relative kuat seperti dolar.
Kriteria stabil ini perlu dites dan diteliti lebih lanjut. Apakah dolar benar-benar mewakili mata uang yang stabil? Banyak
ekonom yang berpendapat selama itu masih berupa fiat money, dimanapun
ia akan menyimpan bom waktu ketidakstabilan sepanjang masa. Salah
satu argumen utamanya, karena pemerintah gampang tergoda menerbitkan
uang dalam jumlah yang tak terbatas (unlimited) dengan konsekuensi
meroketnya tingkat inflasi.
Bisa disimpulkan bila Amerika menikmati pendapatan
yang luar biasa besar dari penciptaan uang ini atau yang dikenal dengan
istilah seigniorage(Pendapatan dari penerbitan mata uang).
Keuntungan dari penciptaan mata uang semakin besar ketika banyak
pendukung yang mensirkulasikan mata uang dolar tersebut ke seluruh
penjuru dunia. Karena itu, sangat tidak adil bagi kebanyakan Negara
berkembang di mana para buruh bekerja membanting tulang hanya untuk
mengejar pendapatan $2-$5 per hari, sementara The Fed dengan sangat
leluasa bisa mencetak dolar hampir unlimited untuk membiayai anggaran
belanja Negara dengan konsekuensi orang seluruh dunia pengguna dolar
ikut “menyumbang” dengan membayar inflasi yang diakibatkannya. Dengan
kata lain, pemerintah Amerika secara tidak langsung bisa memajaki
pemegang dolar di seluruh dunia melalui skema anggaran yang terinflasi.
The Fed dapat leluasa mencetak Dolar
Tak dapat disangkal saat
ini dolar AS menjadi mata uang yang paling banyak dipakai di penjuru
bumi. Dolar tidak hanya dipakai dalam perdagangan internasional, tapi
juga menjadi mata uang yang paling banyak disimpan secara resmi sebagai
cadangan devisa oleh banyak negara.
Kenapa kebanyakan Negara berlomba-lomba menyimpan dolar, bukan euro, poundsterling, yen. Boleh
jadi alasan tersebut karena dolar menjadi satu-satunya alat pembayaran
untuk komoditi minyak (minyak merupakan sumber energi bagi negara
manapun).
Alasan rasional lain karena peran Amerika sebagai
mesin ekonomi dunia. Ketika kemudian dalam perdagangan dunia, impor AS
melebihi ekspornya (diperkirakan 75% total impor dunia diserap oleh
Amerika sendiri), tak pelak dolar membanjiri pasar dunia. Para
eksportir dari belahan dunia menerima pembayaran impor dari mitra
dagangnya dalam bentuk dolar. Kemudian mereka menukarkan sebagian dolar tersebut ke dalam mata uang domestik ke bank sentral. Ketika dolar masih di-back up dengan emas, sebagian aliran dolar itu oleh bank sentral kemudian dikonversi menjadi emas dengan menukarkannya ke bank sentral AS, The Fed.
Namun ketika tuntutan konversi dari
dolar ke emas mulai menggunung dan mulai sulit dipenuhi, AS memainkan
kartunya dengan menghentikan konvertibilitas Dolar sekaligus menandai
ambruknya sistem Bretton woods yang menghargai 1 ons emas = 35 Dolar
AS. Mulai saat itu juga para eksportir dari seluruh belahan dunia
menerima pembayaran komoditinya dengan Dolar -uang kertas yang nominalnya tak segram pun didukung dengan emas.
Tiga indikator dasar
Kemampuan Dolar untuk terus bertahan menjadi alat
pembayaran utama bisa dideteksi dari tingkat kepercayaan penggunanya.
Kepercayaan tersebut sangat bergantung pada kemampuan AS dalam
memelihara stabilitas dan kesinambungan fundamental ekonominya. Inflasi,
pengangguran, dan tingkat hutang merupakan tiga indikator dasar yang
dapat dijadkan acuan dalam menilai stabilitas fundamental ekonomi suatu
Negara.
AS berhasil mengendalikan tingkat inflasinya sejak tahun
1982 dan seterusnya hingga tahun 2007 berfluktuasi tipis antara 1%
hingga 6 %. Tingkat pengangguran dapat dikatakan dalam posisi yang
moderat berkisar antara 4% hingga 9 % dengan catatan semakin menurun
dari tahun ke tahun. Dari 2 indikator tersebut dapat dikatakan bahwa AS
tidak memiliki masalah serius dalam fundamental ekonominya.
Namun bagaimana dengan tingkat hutang luar
negerinya?? Total outstanding hutang AS dari tahun ke tahun terus
meningkat. Pada tahun 1998 jumlahnya mencapai 5,5 triliun dolar lebih
dan meningkat menjadi 6,2 triliun di akhir tahun 2002. Bila sebelumnya
AS dikenal sebagai Negara pemberi hutang, saat ini beralih menjadi
Negara yang terjerat hutang yang tak terbayangkan. Bedanya, bila
Negara-negara miskin harus berjuang sendirian untuk melunasi hutangnya,
AS bisa mendapatkan solusi yang lebih elegan dengan melibatkan seluruh
masyarakat dunia pengguna Dolar untuk bersama-sama menanggung inflasi
yang diakibatkan Dolar tersebut.
Manipulasi pasar modal domestik
Robert Heller, anggota Federal Reserve Board , pada
tahun 1989 mengeluarkan pernyataan bahwa atas nama stabilitas ekonomi,
The Fed bisa saja membeli saham di pasar modal dalam jumlah besar untuk
menstabilkan pasar dari ancaman inflasi akibat dari banyaknya jumlah
Dolar yang beredar di masyarakat. Pernyataan ini sangat irasional
karena terdapat berbagai persoalan teknis seperti, bagaimana cara The
Fed (sebagai bank sentral) untuk masuk ke dalam mekanisme pasar modal.
Ide menstabilkan pasar ini mengingatkan kembali
tentang keberadaan tim khusus untuk menangani pasar modal setelah
terjadinya market crash 1987. Tim yang dikenal dengan WGFM (Working
Group on Financial Market), didirikan pada tahun 1988, adalah tim ad hoc
yang terdiri dari menteri keuangan, gubernur The Fed, ketua Securities
and Exchange Commision (semacam Bappepam), dan ketua Commodity Futures
Trading Commision. Tugas utama dari tim ini adalah untuk mangambil
tindakan yang “dianggap perlu” untuk menjaga daya saing dari pasar uang AS.
Dalam kesempatan lain, Alan Greenspan pernah menyatakan bahwa The Fed juga melakukan upaya-upaya lain yang disebut “unconventional method”
untuk menstabilkan ekonomi. Tidak menjelaskan secara terperinci apa
maksud metode yang tidak konvensional itu, namun sumber yang tidak mau
disebut nama dari The Fed mengakui langkah yang dimaksud adalah
mengordinasikan korporasi-korporasi AS untuk saling memborong saham
korporasi AS lainnya dalam rangka menarik Dolar yang beredar “terlalu banyak” di masyarakat.
Kesimpulan
Ketika suatu sistem dipimpin oleh pihak yang kurang
tepat, maka akan hadir kebijakan yang tidak adil. Faktanya, AS adalah
satu-satunya Negara yang dapat mencetak mata uangnya sendiri tanpa
khawatir akan meroketnya tingkat inflasi.
Sistem ini tidak disia-siakan oleh AS. Kemampuannya
mencetak uang tanpa batas telah memicu kemauan pemimpin Negara tersebut
untuk menjadi rakus akan kekuatan yang dibuktikan dengan menjadi
promotor perang Irak, menciptakan konspirasi kemiskinan di Darfur, serta
menjaga ketidakstabilan perdamaian timur tengah yang kesemuanya itu
dilakukan melalui mesin-mesin perangnya.
Menjadikan fiat money yang tak sedikit pun di-back
up dengan logam mulia bagaikan menyimpan bom waktu yang siap meledak
kapan saja. Hal tersebut terjadi ketika disekuilibrium ekonomi tak
tertahankan lagi seperti peristiwa great depression yang
melanda AS dan krisis moneter yang menghantam seluruh Negara Asia
tenggara. Ekonom-ekonom dunia memahami dengan baik fakta tersebut namun
yang mereka lakukan justru tetap mempertahankan fiat money dan sekedar
menunda terjadinya krisis keuangan berikutnya.
Pertanyaannya, perlukah kita kembali memilih standar emas atau sistem yang mendekati seperti mekanisme Bretton Woods dulu?
“Gold is going to be part of the structure of international monetary system for the 21st century.”
Robert A. Mundell, Nobel Laureate.
Sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2014/07/25/us-dollar-bukan-sekedar-mata-uang-676407.html
